Kerajaan
Tarumanegara terletak di daerah kerajaan Salakanegara tepatnya di daerah Banten
dan Bogor (Jawa Barat) yang beribukota di Sundapura. Sedangkan wilayah kekuasaan
Tarumanegara menurut prasasti Tugu (417 M) meliputi daerah Banten,Jakarta,Bogor
dan Cirebon.
B. Kehidupan Politik
Raja
Purnawarman adalah raja besar yang telah berhasil meningkatkan kehidupan
rakyatnya. Hal ini dibuktikan dari prasasti Tugu yang menyatakan raja
Purnawarman telah memerintah untuk menggali sebuah kali. Penggalian sebuah kali
ini sangat besar artinya, karena pembuatan kali ini merupakan pembuatan saluran
irigasi untuk memperlancar pengairan sawah-sawah pertanian rakyat.
C. Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial Kerajaan
Tarumanegara sudah teratur rapi, hal ini terlihat dari upaya raja Purnawarman
yang terus berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan rakyatnya. Raja
Purnawarman juga sangat memperhatikan kedudukan kaum brahmana yang dianggap
penting dalam melaksanakan setiap upacara korban yang dilaksanakan di kerajaan
sebagai tanda penghormatan kepada para dewa.
D. Kehidupan Budaya
Dilihat dari teknik dan cara
penulisan huruf-huruf dari prasasti-prasasti yang ditemukan sebagai bukti
kebesaran Kerajaan Tarumanegara, dapat diketahui bahwa tingkat kebudayaan
masyarakat pada saat itu sudah tinggi. Selain sebagai peninggalan budaya,
keberadaan prasasti-prasasti tersebut menunjukkan telah berkembangnya
kebudayaan tulis menulis di kerajaan Tarumanegara.
E. Kehidupan Ekonomi
Prasasti
tugu menyatakan bahwa raja Purnawarman memerintahkan rakyatnya untuk membuat
sebuah terusan sepanjang 6122 tombak. Pembangunan terusan ini mempunyai arti
ekonomis yang besar bagi masyarakat, Karena dapat dipergunakan sebagai sarana
untuk mencegah banjir serta sarana lalu-lintas pelayaran perdagangan
antardaerah di Kerajaan Tarumanegara dengan dunia luar. Juga perdagangan dengan
daera-daerah di sekitarnya. Akibatnya, kehidupan perekonomian masyarakat
Kerajaan Tarumanegara sudah berjalan teratur.
F. Sumber Sejarah
- Berita Fa Hien, tahun 414M dalam bukunya yang berjudul Fa Kao Chi menceritakan bahwa di Ye-po-ti ("Jawadwipa"). Ye Po Ti selama ini sering dianggap sebutan Fa Hien untuk Jawadwipa, tetapi ada pendapat lain yang mengajukan bahwa Ye-Po-Ti adalah Way Seputih di Lampung, di daerah aliran way seputih (sungai seputih) ini ditemukan bukti-bukti peninggalan kerajaan kuno berupa punden berundak dan lain-lain yang sekarang terletak di taman purbakala Pugung Raharjo.
- Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah datang utusan dari To-lo-mo ("Taruma") yang terletak di sebelah selatan.
- Berita
Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusan
dari To-lo-mo. Dari tiga berita di atas para ahli menyimpulkan
bahwa istilah To-lo-mo secara fonetis penyesuaian kata-katanya sama dengan
Tarumanegara.
- Prasasti
Ciaruteun ; Prasasti Ciaruteun ditemukan pada aliran Ci Aruteun, seratus meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Ci Sadane; namun pada tahun 1981 diangkat dan diletakkan di dalam cungkup. Prasasti ini peninggalan Purnawarman, beraksara Palawa, berbahasa Sanskerta. Isinya adalah puisi empat baris, yang berbunyi :vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayamTerjemahannya menurut Vogel :Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara. Selain itu, ada pula gambar sepasang "padatala" (telapak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan dan fungsinya seperti "tanda tangan" pada zaman sekarang.
- Prasasti Kebon Kopi ; Prasasti Kebon Kopi, dibuat sekitar 400 M (H Kern 1917), ditemukan di perkebunan kopi milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogor. Dalam prasasti ini terdapat lukisan kaki gajah yang melambangkan Airawata yaitu gajah tunggangan Wisnu.Prasasti Telapak Gajah bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi berbunyi:jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayamTerjemahannya:Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.
- Prasasti Jambu ; Di daerah
Bogor, masih ada satu lagi prasasti lainnya yaitu prasasti batu peninggalan
Tarumanagara yang terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung,
Kecamatan Leuwiliang. Pada bukit ini mengalir (sungai) Cikasungka. Prasasti
inipun berukiran sepasang telapak kaki dan diberi keterangan berbentuk puisi
dua baris:
shriman data kertajnyo narapatir - asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam - padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam - bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.
Terjemahannya menurut Vogel: - Prasasti Pasir Awi ; Ditemukan didaerah leuwiliang,juga tertulis dalam aksara iklal yang belum dapat dibaca. Prasasti Pasir Awi berpahatkan gambar dahan dengan ranting dan dedaunan serta buah-buahan (bukan aksara) juga berpahatkan gambar sepasang telapak kaki.
- Prasasti Muara Cianten ; Terletak di tepi(sungai) Cisadane dekat Muara Cianten yang dahulu dikenal dengan sebutan prasasti Pasir Muara (Pasiran Muara) karena memang masuk ke wilayah kampung Pasirmuara.Ditemukan di Bogor ditulis dalam aksara iklal yang belum dapat dibaca. Disamping tulisan terdapat lukisan telapak kaki.
- Prasasti Tugu ; Prasasti ini ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Prasasti ini mengisahkan tentang penggalian Sungai Candrabaga dan Gomati sepanjang 6112 tombak (12 KM) pada masa pemerintahan Raja Purnawarman. Penggalian sungai ini dimaksudkan untuk mencegah datangnya bencana banjir dan sebagai sarana irigrasi sawah untuk mengatasi kekeringan
- Prasasti Lebak ; Disebut juga dengan Prasasti Munjul. Prasasti ini ditemukan di Kampung Lebak, Kecamatan Munjul, Banten. Prasasti yang ditulis menggunakan Huruf Pallawa dan Bahasa Sansekerta ini mengkisahkan tentang keberanian Raja Purnawarman.

Mengenai runtuhnya kerajaan Tarumanegara tidak ditemukan
secara jelas penyebabnya. Menurut Slamet mulyana dalam bukunya Daljoeni
(1984:30) kerajaan Tarumanegara runtuh akibat dari serangan kerajaan Sriwijaya.
Kerajaan Sriwijaya berkuasa di Jawa barat samapai tahun 996 masehi.
Adapun menurut Fruin-Mees kerajaan Tarumanegar
runtuhnya tidak diketahui. Karena kemudian terdapat fakta bahwa pada tahun 1030
M muncul kerajaan Sunda yang dipimpin oleh Sri Jayabhupati. Kerajaan Sunda ini
memiliki pelabuhan yang baik menurut berita China. Nama kerajaan Sunda
terdapat dalam Negarakertagama. Akan tetapi dalam prasasti yang berangka tahun
1194 terdapat kerajaan Galuh yang beribu kota di
tenggara kota Chirebon.
Dalam
penaklukannya Sriwijaya melakukan politik ekspansi demi menjaga monopoli
perdagangan. Sriwijaya memperkuat perniagaan mereka sehingga harus mengusai
semenanjung malaka, pantai pesisir Melayu dan Bhumi Jawa. Bukti ekspansi ke
Bhumi Jawa yang pada saat itu terdapat kerajaan Tarumanegara, yaitu dari
kabar China yang tidak menyebutkan lagi adanya utusan lagi dari
kerajaan To-lo-mo tahun 669.
No comments:
Post a Comment